Selasa, 18 Februari 2014

Ratapan anak yatim

Kala semuanya berangkat ke sekolah
Dia duduk termenung sendiri
Dalam hati dia bertanya
Mengapa hidupku seperti ini?

Kian lama sang ayah tlah tiada
Ibunya pun sudah renta
Tiap pagi dia bekerja
Mencari nafkah penyambung nywa

Anak sekecil itu
Tidak lagi bisa menikmati waktu
Hari-hari dia jalani
Penuh dengan penderitaan diri

Tuhan ....
Panjatnya dalam sebuah doa
Mengapa aku tak bisa seperti mereka
Mengapa keburu kau panggil ayah

Karya: ipin as

Translate inggris

When everything went to school
He sat pensively alone
Inwardly he asked
Why is my life like this?

Wherever father growing old nothing
Her mother was already frail
Every morning he works
Seeking a living connective nywa

Young boy
No longer able to enjoy time
The days he lived
Full of suffering self

God ....
Panjatnya in a prayer
Why I can not like them
Why do you call father hurried

Works: ipin as

Cita-cita

Aku ingin jadi orang berguna
Belajar dengan penuh setia
Belajar dengan sekuat tenaga
Berjuanh sekuat-kuatnya

Aku ingin jadi orang budiman
Berbica dengan lemah lembut
Bersikap dengan sopan santun
Bergaul dengan ramah tamah

Aku ingin jadi orang mulia
Berjasa pada bangsa dan negara
Barbakti pada ibu dan bapak
Bertakwa kepada tuhan yang maha esa

Dikutip dari: bahasa indonesia 4b, depdikbud.

Hayatilah sayang

Hayati, rasa serta renungkan
Duka mahapedih sedalam samudra
Oleh gelombang tsunami yang gemuruh menerjang
Yang merenggut memporak-porandakan segalanya

Semoga, dengan semua itu
Terketuklah pintu hatimu
Untuk ikhlas berbagi
Menyantuni
Merawat dan merengkuh penuh kasih sayang
Mereka yang kini melunta
Seraya engkau pun merasa perlu berpuasa
Dari menempuh hidup hidup sekedar berhura-hura

Berbahagialah kita
Yang mampu mengambil hikmah
Atas musibah
Yang datang melanda

Karya: yant mujiyanto
Dikutip dari: indonesia mebangis, 2005

Tahajud

Di malam yang hening dan sepi
Aku terbangun seorang diri
Kuambil air wudu untuk bersuci
Aku ingin menghadap sang ilahi

Ya, alloh...
Kuharapkan diriku yang hina ini
Kuserahkan hidup dan matiku
Kuserahkan kepada-Mu
Kuserahkan kepada kehendak-Mu

Ya, alloh...
Berilah aku kekuatan iman
Berilah aku ketabahan
Berilah aku kemudahan jalan
Untuk menghadapi masa depan penuh harapan

Karya: anindhiya ulhaq
Dikutip dari: bahasa indonesia kelas 4

Sahabatku

Papa,
Sebelum pesta berlangsung
Izinkan aku menengok ke belakang
Di sana sahabatku yang miskin
Hidup dengan berjualan koran

Papa,
Dia teman sekelasku
Juga lulus dalam ujian
Nilainya yang tinggi
Sangat kusayangkan

Kini
Aku minta kesediaan papa
Menyerahkan biaya pestaku
Untuk meringankan ongkos
Masuk sahabatku si SMA

Sumber: antologi puisi indonesia
Modern anak-anak, 2003

Surat dari ibu

Pergi ke dunia luas, anakku sayang
Pergi ke hidup bebas!
Selama angin masih angin buritan
Dan matahari pagi menyinar daun-daunan
Dalam rimba dan padang hijau

Pergi ke laut lepas, anakku sayang
Pergi ke alam bebas
Semala hari belum petang
Dan warna senja belum kemerah-merahan
Menutup pintu waktu lampau

Jika bayangan telah pudar
Dan elang laut pulang ke sarang
Angin bertiup ke benua
Tiang-tiang akan kering sendiri
Dan nahkoda sudah tahu pedoman,
Boleh engkau datang padaku!

Kembali pulang, anakku sayang
Kembali ke balik malam!
Jika kapalmu telah rapat ke tepi
Kita akan bercerita
"tentang cinta dan hidupmu pagi hari"

Karya: asrul sani
Dikutip dari: bahasa indonesia kelas 5A SPK.

Senin, 17 Februari 2014

Belajar membuat pantun dengan mudah dan indah

Pantun termasuk salah satu jenis puisi lama. Dengan demikian cara menyusun pantun sebenarnya sama dengan cara membuat puisi. Kalaupun ada perbedaan hanya sedikit, yaitu hanya terletak pada irama persajakannya saja.

Ada beberapa langkah untuk membuat pantun, yaitu:
1. Tentukan tema pantun terlebih dahulu
Kita bisa memilih tema pantun, misalnya pantun jenaka, pantun nasehat atau pantun agama dan sebagainya.
2. Buatlah isi pantun sebelum membuat sampiran
3. Setelah isi pantun dudah jadi, maka buatlah pantun dengan cara menyamai irama persajakannya dengan isi pantun
4. Koreksilah pantun jika sudah jadi

Dari langkah-langkah sebagaimana diatas, sekarang marilah kita belajar menyusun nasehat pantun. Langkah-langkah yang harus di tempuh adalah:
1. Membuat isi pantun
Misalnya kita membuat isi pantun:
Jangan berlagak sok jagoan
Kalau berani tunjukan kepintaran
2. Membuat sampiran pantun
Membuat sampiran pantun bisa dilakukan dengan cara:

a. Mencari kata-kata yang bunyi sajak akhirnya sama dengan kata-kata terakhir yang terdapat dalam isi pantun.
Sekarang kita cari kata-kata yang sesuai dengan kata "jagoan" dan "kepintaran", yaitu yang berakhiran "an" dan berakhiran "ran". Yang sesuai dangan kata jagoan misalnya kata "jajan", "comberan", " perempuan dan seterusnya. Dari kata-kata tersebut pilih salah satu kata yang mudah bila di rangkai dalam bentuk kalimat. Sekarang kita cari kata yang sesuai dengan kata yang sesuai dengan kata "kepintaran", misalnya "ketakutan", "gemeteran" atau "kehampaan" dan seterusnya. Dari kata-kata tersebut pilih salah satu.
Sekarang kita tetapkan, yang dipilih kata:
Jagoan=coberan
Kepintaran=gemeteran

b. Setelah ditetapkan kata-katanya, maka selanjutnya kata-kata tersebut disusun menjadi kalimat yang baik dan dapat dimengerti.
Perlu diketahui bahwa pantun yang baik adalah pantun yang sampirannya terbentuk dari kalimat yang lain ada kaitannya dan bersambung.
Sekarang mari kita coba menyusun dua buah kalimat. Kalimat pertama berakhiran "comberan" dan kalimat uang kedua berakhiran "gemeteran". Ada beberapa kalimat uang bisa kita pilih, misalnya:
1. Jalan-jalan terperosot kecomberan
Kaki kesemutan karena gemeteran
2. Buah duku jatuh kecomberan
Saat memanjak pohon kaki gemeteran
3. Macam galak terperosot kecomberan
Mau berlari kaki gemeteran

Ketika kalimat diatas sudah nisa dijadikan pantun. Namun dari ketiganya ada yang lebih baik dari yang lain.
Sekarang mari kita rangkai ketiga kalimat menjadi sebuqh pantun.

Pantun pertama
Jalan-jalan terperosot ke comberan
Kaki kesemutan karena gemeteran
Jangan berlagak sok jagoan
Kalau berani tunjukkan kepintaran

Keterangan:
Pantun diatas hanya bersajak akhir, sementara di bagian tengah hanya ada beberapa kata yang sesuai.

Pantun kedua:
Buah duku ke comberan
Saat memanjat pohon kaki gemeteran
Jangan berlagak sok jagoan
Kalau berani tunjukkan kepintaran

Keterangan:
Pantun kedua ini hanya bersajak di akhir kalimat sementara tengahnya tidak ada sajaknya sama sekali.

Setelah pantun sudah diselesaikan, langkah terakhir adalah mengkoreksi pantun yang sudah jadi. Caranya, kita harus membacanya lagi berkali-kali. Jika ada kata-kata yang kurang pantas gantilah dengan kata yang lain yang lebih pantas. Setelah itu kita bisa minta kepada orang lain untuk mengkoreksinya

Caranya bagaimana?.
Kita baca pantun itu dengan suara keras kemudian orang lain yang mendengar suruh mereka menilai. Apakah pantun itu sudah baik atau belum. Kalian kita sadar bahwa sebuah pantun yang menurut kita baik, belum tentu bagi juga orang juga baik. Tetepi bagaimanapun juga minta tolong meminta tolong kepada orang lain untuk mengkoreksi hasil karya kita itu adalah langkah positif. Namun kita harus terbuka menerima kritikan orang lain.

Jika orang lain menilai kurang baik, tanyalah segi mana yang kurang baik lalu cobalah untuk mamperbaiki. Hindari perasaan marah kalau orang lain menilai karya kalian jelek. Ingat, orang yang baik dan yang akan berhasil adalah mereka yang mau terbuka dengan kritik yang membangun dan akan berusaha semaksimal mungkin memperbaiki hasil karyanya yang kurang sempurna.